Mendung
Mendung semakin merajalela menutupi cerahnya awan
Sesungguhnya matahari tak rela jika memang bukan karena-Nya
Lalu Detak-detik tetesan air hujan darinya mulai ku rasa,
Merendam rasa darah amarah terpendam dalam patri jiwa,
Mengekang gerak kacau raga tak kendali
Berdiri dengan kesepian dalam ketegangan
Ku tak peduli petir jika memang ia menyambarku
Kalaulah ia menyambar, biarkan tanah menjadi saksiku
Ku tak peduli topan walau ternyata ia menggilingku dengan kebenciannya
Tetapi sudahlah, aku hanya berharap ada yang menemukanku,,,
Terasa lama ku tunggu redanya titik titik air deras itu
Tanah panas itu telah terguyur habis olehnya
Asap pun kemudian keluar dari hawa panasnya yang hilang
Kini dingin tengah menghampiriku sesaat dalam kesendirianku
Yang hanya ditemani sempitnya dan keterbatasan ruang
Minggu, 30 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar