“Aku” yang selalu membayangi setiap insan, yang ada semenjak “Ia” pertama kali diciptakan, “Aku” telah ada. Antara kenyataan, impian, harapan dan angan-angan tumbuh di dalam “aku”, seakan “aku” ingin hidup selamanya. Bebas terbang di angkasa yang tak berpohon tak berintang,,,hanyalah ada awan di langit yang mudah ditembus, sama sekali tak ada arti bagi burung bersayap. Tapi awan itu terkadang bergumul sehingga gemerlap cahaya sang matahari tertutup dalam pucatnya dan tiba-tiba menjadi bencana bagi sang burung. Akhirnya sang burung kembali bertepi di atas sebatang pohon, sejenak tuk hinggap berlindung. “Aku”, ya aku seakan burung, atau malah “aku” adalah burung itu sendiri. Akhirnya “aku” hanya akan kembali ke tempat di mana “aku pertama kali muncul, tanah. Sayang sekali, harapan yang tinggi akhrinya terkubur dalam-dalam dan hanya sepintas “kenangan” yang mungkin dikenang, menyedihkan.
“Aku” mulai berharap akan kenyataan dan keniscayaan yang mungkin telah dan pasti pudar, berpaling dari apa yang menjadikannya angan-angan. “Aku” benar-benar tak ingin mendengar maupun berkata kata-kata yang tak pantas ku ucap, kata ‘jika’ ’dan apabila’ akan kubumi hanguskan beserta kayu yang pantas “aku” bakar, beserta batu yang sanggup kuhancurkan. Walau memang terkadang, Dia dalam retorika-Nya, berfirman dengan ‘jika’. Namun ada batu titik jelas pengucapan antara “aku” dan Dia. Kata itu jika berada dalam wilayah-Nya adalah untuk masa depan “aku” dan sebuah kepastian akan tibanya sesuatu sedangkan jika ‘kata’ itu bersamaku itulah bentuk sekeji-kejinya penyesalan. Apakah Penghambaan diri “aku” kepada Nya-lah satu-satunya cara “aku” melawan penyesalan ini.
Saat surut waktu menemaniku, “aku” dengan segala perilaku, saat bumi menjadi saksi atas hidup “ku”, saat langit memandang “ku” dari kejauhan dengan mendung dan cerahnya, saat matahari menyinari menerangi “ku”, saat bulan hanyalah sahabat sejati dalam gelap dunia “ku”, saat bintang menghiasi tatapan mata “ku” tatkala “aku” pandang langit membiru gelap, maka saat itulah “aku” sadar dan khilaf atas kehadiran-Nya, syukur dan kufur kepada nikmat-Nya, iman dan kemunafikan menjadi topeng “aku” sesama “aku”, tapi ternyata itu semua bukanlah bagi-Nya, itu semua bagi “aku”. Sesal tak berujung! Ternyata “aku” dulu pernah berjanji pada-Nya bahwa “aku” lah yang pantas menjadi pemimpin bumi ini, lebih dari segala makhluk yang diciptakan-Nya, tak peduli apakah itu malaikat yang menolak aku karena aku yang selalu memporak-porandakan bumi, syetan yang menolak titah-Nya untuk sujud pada bapa”ku”, jin, binatang, maupun tumbuhan. Mereka terlalu jujur untuk mengatakan bahwa mereka tidak mampu. Tapi semua itu lebih baik bagi mereka. Lalu, apakah “aku” dulu berbohong pada-Nya, bahwa “ku” siap menjadi pemimpin atas bumi yang telah Dia ciptakan, gunung-gungung yang telah ia tancabkan, sungai-sungai dunia yang Ia alirkan, bumi Ia hamparkan, dan langit yang telah Ia bentangkan. Sungguh khianatnya “aku” tak mampu menepatinya, sungguh kotornya “aku” jika “aku” hanyalah kotoran dunia.
Tapi “ku” tahu Dia adalah Sang Pengampun atas segala dosa “ku”, karena-Dialah, “aku” diciptakan dengan kebimbangan yang menjadi fitrah “ku”, Dialah yang menanamkan nafsu dan hati pada “aku”, dan Dialah yang telah menyempurnakan “aku” dalam sesempurna ciptaan-Nya. “Aku” lah ternyata makhluk yang satu-satunya dianugrahi akal, untuk membaca, membaca alam ciptaan-Nya yang agung, yang teramat luas. Hingga lautan jika menjadi tinta dan pepohonan yang menjadi penanya, tak sanggup untuk menuliskan segala ilmu-Nya. Akan tetapi, semua itu ternyata yang akan menjadikanku sehina-hinanya makhluk, tapi di balik itu, aku pun mampu menjadi semulia-mulia makhluk-Nya.
Menatap dunia tak berujung, bentuk bulatnya, walau dulu “aku” pernah menyangka bahwa bumi itu adalah hamparan yang berjurang – itulah kedangkalanku dulu –, seakan bumi ingin berkata pada “ku” bahwa angin yang dulu pernah “aku” rasakan akan kembali datang menjemput. Apa yang dulu pernah “aku” lakukan maka ia akan kembali pada”ku”. Oh sungguh tak terkira, Tuhan telah meproklamasikan tanda-tanda-Nya pada alam, terlebih ia berjanji dengan alam dengan ciptaan-Nya, tetapi aku tak peduli pada-Nya, “aku” berpaling dari ayat-ayat kauniyah-Nya, menenggelamkan diri ke dalam lautan padahal “aku” tahu bahwa “ku” akan mati di dalamnya. Terkadang, “aku” merasa satu-satunya “aku” di dunia, tak peduli bahwa “aku” ada bersama jiwa-jiwa yang hidup, bernafas, dan berakal.
“Aku”,.....
Minggu, 30 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar