Hawa nafsu tak akan pernah habis kecuali badan yang membawanya telah tiada, setelah itu ia akan senang dan tertawa karena jiwa yang ditumpanginya akan menerima apa yang ia kerjakan, kasihan manusia, hawa nafsu hanyalah merugikan jiwa yang menerutinya.
Hidup ini sering dilihat dari dua aspek, hitam putih, baik buruk, bumi langit, malam siang, matahari bulan, seakan semuanya bertentangan. Tapi tak dapat dipungkiri semuanya betentangan. Jika dilihat pada aspek yang lebih mikro, manusia mempunyai dua entitas yang akan menentukan kehidupannya kelak – yang mana Tuhan telah menyediakan tempat bagi kedua-duanya – hawa nafsu/syetan dan hati/malaikat. Namun, ada satu hal yang mungkin menjadi abu-abu dari keduanya, yaitu sebuah kecenderungan manusia yang dibawa semenjak lahir sebagaimana telah difirmankan oleh Tuhan.
Kesadaran manusia akan problematika kehidupan barulah muncul ketika ia menganjak dewasa, di mana ia perlu memposisikan dirinya di tempat yang ia kehendaki, sekali lagi, buruk dan benar. Tentunya, kesadaran ini diiringi dengan munculnya beban taklif – dalam istilah syar’i diartikan bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan – pada setiap orang. Kesadaran ini akhirnya harus memilih antara hati dan nafsu. Hati yang akan membawanya pada alam kedamaian penuh harapan, menjaga tapak tulisan yang masih putih sedangkan nafsu, ia akan membuat jiwa begitu bergejolak penuh kebimbangan tak ada yang ditawarkan kecuali semua kedustaan hidup, ia menghitamkan catatan manusia, menambah berat dosa yang manusia tak mampu memilkulnya jika ia berwujud nyata. Namun, siapa yang gerang tak mengikuti nafsu, dia begitu nyata untuk menampilkan hal-hal yang menyenangkan bagi mata, dan keseluruhan apa yang ia miliki sehingga pintu hati, hanya akan tertutup dan semakin tertutup. Bayangkan saja, seakan satu orang dilihat dari luar angkasa – di luar bumi – ia tidak nampak bahkan ia tak ada, hilang.
Lalu sebenarnya apa yang tujuan hidup manusia, yang telah diberi segala fasilitas lengkap serta kelebihan yang melebihi malaikat, akal, yang jika manusia memanfaatkan segalanya, semua makhluk tak terkecuali malaikat akan iri pada manusia dan jika gagal, mereka terdiam enggan mendekat padanya. Satu kunci, yang menjadi tujuan hidup manusia dalam al-Qur’an, ibadah dan ketaatan kepada Yang Maha Menciptakan, Allah swt. Ibadah, berarti melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya, melaksanakan kewajiban sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, penuh kepedulian, dan pandai bersyukur atas apa yang telah Ia limpahkan. Namun, itu saja belum cukup, ada hal yang mendasari segalanya, Iman. Iman yang menjadi dasar dan pondasi segala perilaku manusia menjaga diri manusia dari terpelesetnya ia dari jurang kenistaan hidup. Iman ini kemudian ditunjukan dengan amalan-amalah shaleh dalam Islam – rukun Islam, sehingga semua perilaku ini dijaga dan diikat dengan tali ihsan, sungguh indah rangkaian perbuatan jika semua bertolak dari apa yang telah digambarkan oleh Rasulullah saw.
Namun, manusia tetaplah manusia, ia mempunyai satu tolak yang mempunyai kecendurungan, nafsu/syetan. Terlebih ia tidak akan rela melihat manusia melakukan ibadah yang dinyatakan oleh Tuhan. Lalu apakah Tuhan melarang mengikutinya. Ya, Tuhan melarangnya, tetapi ia tidak memaksa manusia untuk tidak mengikutinya, karena Tuhan sendiri telah membuka lebar segala kebaikan dan keburukan dengan pandangan hati, lalu jika hati telah tertutup, apa lagi yang bisa melihat apakah itu buruk atau baik. Mata, tentu tidak, ia selalu tertipu dengan kedusataan. Dan segala apa yang menjadi alat bantu manusia – organ luar – hanyalah tunduk pada dua unsur itu, hati dan nafsu. Lalu akal, akal hanyalah pemutar memori dan pengingat – ia sama saja dengan mata – menyerahkan pada nafsu dan hati. Maka, benar apa yang dinyatakan oleh al-Ghazali bahwa jika hati menjadi raja, maka terbukalah jalan kebenaran, namun jika nafsu jadi raja, tertutuplah kebenaran, dan nikmatilah kenikmatan yang sesaat dan menyesatkan.
Saat tubuh dibawa oleh nafsu, sesaat manusia akan terasa tenang, lebih menyenangkan seakan kehidupan hanyalah miliknya. Namun, masa itu telah habis, hati pun mengetuk jiwa dan berkata, “apa yang telah engkau perbuat sahabat, apa kau lupa untuk apa kau hidup, untuk apa kau miliki mata, tangan dan kaki”, lalu apakah kau hanya ingin menghambabakan pada kesenagnan yang sesaat. Oh, sungguh, kau telah sesat, maka kembalilah pada jalan yang Ia kehendaki”. Terkadang jiwa menurut, tetapi ternyata jika dorongan nafsu terlalu besar, jiwa itu akan jatuh lagi pada kesedihan, oh sungguh kasihan.
Kapankah semangat itu muncul kembali atau ia akan hilang bersama waktu, dan yang tesisa hanyalah puih-puih keindahan yang tak pantas aku ingat kembali.
Minggu, 30 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar