Mengenai Saya

Foto saya
terkadang agak arogan, hhe, tpi itu sih, sekali 24 x 356 hari,jadi jngan tkut,,,,hehe

Minggu, 30 Mei 2010

ARAB JAHILLIYAH BERSIKAP AL-QUR’AN MENJAWAB

Bangsa Arab dengan berbagai karakteristiknya

Bangsa Arab, sebagai pijakan terakhir bagi Allah untuk mengajarkan asas-asas ketauhidan-Nya, melalui rasul-Nya, Nabi Muhammad “anak suku Quraisy”, tentunya mempunyai banyak faktor yang menyebabkan dipilihnya tempat ini sebagai tempat terakhir pewahyuan ajaran-ajaran Allah yang kemudian tercakup dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Bangsa Arab merupakan salah satu rumpunan Bangsa Semit yang tinggal di Jazirah Arab. Menurut bahasa, Arab artinya padang pasir, tanah gundul, dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Kondisi ini selain menjadikan mereka sebagai kaum nomaden – yang dulunya hanya bercocok tanam dan bertani – juga mempengaruhi watak kepribadian mereka dalam berbagai aspek. Sehingga muncullah dalam wacana keislaman, bahwa arab pra-Islam adalah masa Jahilliyah.

Dalam kehidupannya, bangsa Arab terkenal dengan konsep komunalisme atau paham kesukuan yang sangat kental sekali, yang diambil dari jalur sedarah maupun tetangga terdekat. Paham komunalisme ini akhirnya melahirkan karakteristik khusus kaum Arab dalam pandangan manusia. Pada umumnya, katakteristik ini dibagi menjadi dua, sosial dan moral.

Pertama, Sosial. Gambaran umum kondisi sosial umat Islam ini tergambar dari hadis nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah dari Abu Daud, 1) pernikahan secara spontan, 2) seorang laki-laki bisa berkata kepada isterinya yang baru suci dari haid “Temuilah fulan dan berkumpullah bersamanya”, 3) Pernikahan Poliandri, yaitu pernikahan beberapa orang laki-laki yang jumlah tidak mencapai sepuluh orang dan 4), sekian banyak laki-laki bisa mendatangi wanita yang dikehendakinya yang juga disebut wanita pelacur.

Kedua, Moral. Konsep moralitas ini merupakan suatu sikap atau bentuk perlawanan terhadap nasib yang keras; mungkin menunjukan suatu tekad untuk membuktikan bahwa bangsa Arab dapat bertahan hidup ke daerah yang lebih terpencil. Dan dalam Arab pra-Islam moralitas dapat disebut juga dengan murua’ah. Moral orang arab Pra Islam, pada dasarnya sering dilihat hanya dari aspek negatif, tanpa menghadirkan nilai positifnya. Padahal mereka sendiri memiliki nilai positif itu, diantaranya, 1) Kedermawanan, al-Karim. 2) Keberanian, al-Syaja’ah. 3) Kesabaran, al-Shabr. 4) Kesetiaan dan Kejujuran.

Terlepas dari karakteristik positif orang Arab pra-Islam, mereka tentunya memiliki karakteristik yang negatif – kasus ini merupakan inti dari karakteristik orang-orang arab pra-Islam yang muncul dari sikap fanatisme kesukuan yang sangat kuat – guna mempertahankan eksistentsi sukunya masing-masing; 1) Sulit bersatu, 2) Gemar peperangan, 3) Kejam, 4). Pembalas dendam 5) Angkuh dan sombong, al-Ananiy. Jika dianalsis kembali bahwa semua sikap negatif – yang kemudian menjadi moralitas dan ciri mereka – merupakan hasil dari konsep komunalisme mereka. Karena faktor inilah yang sangat kuat medorong mereka bersikap seperti itu.

Mengurai Term Jahiliiyah Arab pra-Islam

Dengan kategorisasi karakteristik yang telah disampaikan, karakteristik yang positif maupun negatifnya, dapat diambil alasan logis kenapa arab pra-Islam disebut juga kaum Jahilliyah. Gelar Jahilliyah yang besandar pada arab pra-Islam, bukanlah Jahl yang mempunyai antonim ‘ilm, tetapi hilm¸ hal ini bisa dilihat dari puisi arab-Pra Islam, kata jahl sering bergandengan dengan kata hilm. Salah satu puisi itu, bisa dilihat dari pernyataan seorang syair arab pra-Islam, yang kemudian memeluk agama Islam, Amr bin Ahhar;

“Banyak panci (jillah tempat masak yang hitam (duhm harfiahnya: yang hitam) dan besar (jillah) yang dirawat oleh pelayan perempuan kami dengan baik (tusadi-ha harfiahnya membujuk mereka); suatu ketika perutnya (isi panci) menjadi jahil (mendidih), ia tidak mau menjadi halim (tenang).

Al-Jahl merupakan pola perilaku khas seseorang yang bedarah panas dan tidak sabar yang cenderung kehilangan kontrol diri sekalipun dengan provokasi yang sangat kecil. Secara tidak langsung konsep ini menolak pernyataan bahwa arab Jahilliyah adalah orang yang bodoh dalam aspek intelegensi, namun mereka bodoh (dalam) artian keburukan sikap yang tidak memiliki nilai-nilai humanis, kemanusiaan. Disinilah sebenarnya titik tekan ajaran Islam, sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, mengangkat kembali nilai-nilai humanis, moralitas, dengan kembali memanusiakan manusia dalam pandangan atau dalam istilah Kuntowijoyo disebut dengan humanisasi.

Yaitu mengembalikan nilai-nilai manusia dalam ruang lingkup ketuhanan yang bertolak dari teosentris, yang tentunya berbeda dengan humanisasi barat yang bertolak dari antroposentris, suatu paham yang menganggap bahwa peradaban terpusat di manusia, from men for men.

Dalam al-Qur’an, tepatnya pada surah al-Fath [48]: 26, al-Ahdzab [33]: 33, Ali-‘Imran [3]: 154, terdapat kata yang disandarkan dengan kata jahilliyah dan dengan jelas bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang disandarkan kepada mereka karena realitas sikap mereka. Pada surah al-Fath [48]: 26, terdapat kalimat, hamiyyah al-Jahiliyyah, yang berarti kesombongan kaum Jahilliyah. Menurut Ibn Katsir, kesombongan kaum Jahililliyah ini disebabkan mereka – kaum kafir – tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad saw. Adapun menurut al-Mawardy, kesombongan kaum kafir itu bisa bermakna dua hal, pertama penolakan terhadap penyembahan kepada Allah dan kedua, seperti apa yang diucapkan oleh Ibn Katsir, penolakan terhadap risalah kenabian Nabi Muhammad.

Sedangkan pada surah al-Ahdzab [33]: 33, yang dianalogikan adalah al-Tabarruj, tabarruj al-Jahiliyyah. Secara etimologis, al-Tabarruj adalah berhias. Dari khitabnya, ayat ini ditunjukan kepada istri-istri nabi – bersifat temporal – tetapi pada hakekatnya bersifat universal, untuk seluruh mukminat. Larangan untuk berhias seperti wanita-wanita kaum Jahiliiyah – yang tidak memperhatikan aurat mereka dan berstatus sebagai bentuk ‘kebendaan’ dari laki-laki – tiada lain untuk mengangkat derajat mukminat, tidak sebagaimana pada kaum Jahiliiyah dulu.

Dalam memaknakan al-Jahilliyah pada konteks ayat ini para penafsir cenderung berbeda pendapat, sebagaimana dinyatakan oleh al-Thabari dalam kitabnya, Jami’ al-Bayan fi ta’wil al-Qur’an,; 1) pendapat pertama diriwayatkan oleh Ibn Waki’ dari bapaknya dari Zakariyya dari ‘Amir bahwa yang dimaksudkan al-Jahilliyah adalah kaum diantara Nabi Isa dan nabi Muhammad. 2) pendapat ketiga ini diriwayatkan oleh Ibn Waki’ tetapi melalui jalur yang berbeda, dari Ibn ‘Ayyinah dari bapaknya dari Hukm, bahwa yang dimaksud dengan al-Jahilliyah adalah Kaum diantara nabi adam dan Nuh berselang 800 tahun. Pada zaman ini, wanita adalah wanita yang sejelek-jeleknya perilaku dari seluruh wanita dari perdaban manusia, tetapi tidak dengan laki-lakinya. Dan wanita pada waktu itu menginginkan laki-laki atas sekehendaknya.

Terakhir, sikap yang disandarkan kepada kaum Jahiliiiyah ada pada surah Ali-‘Imran [3]: 154 adalah dzan al-Jahiliyyah. Al-Jahilliyah disini berposisi sebagai tasybih (perumpaan) dan ta’kid (penguatan atas sanggakan mereka) pada Allah, bahwa Allah telah meningkari janji-Nya. Lalu bagaimanakah bentuk sangakaan kaum Jahilliyah sebenarnya? Kaum Jahiliyyah hanya menyangkan bahwa Allah hanyalah pencipta Alam semesta dan tidak terkait dengan apapun setelah mereka ada didunia hingga mereka mati. Karena mereka percaya bahwa yang menentukan kematiannya adalah al-Dahr, waktu. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah pada surah al-Jatsiyah [45]: 24.
Jika diambil kaedah umumnya, bahwa disandarkannya mashdar kepada fi’il – dalam konteks ini, al-Jahiliyyah – ternyata tiada lain merupakan bentuk pembuktiaan dan pernyataan Allah terhadap buruknya sikap orang-orang Jahiliyyah yang tidak patut ditiru dan dicontoh. Karena jika melihat kembali kalimat pada ayat-ayat itu, bisa dilihat bagaimana Allah tidak menginginkan manusia untuk mengkuti sikap kaum Jahilliyah. Dan dari ayat itu pula, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa al-Jahilliyah pada kaum arab pra-Islam itu berarti bukan kebodohan intelektual, tetapi lebih kepada kebutaan spiritual.

Refleski al-Qur’an dalam menjawab realitas arab jahilliyah

Dari karakteristik singkat tadi, lalu bagaimanakah respons seungguhnya dari al-Qur’an untuk menjawabnya? Disini yang paling dan harus dilihat adalah aspek humanisasi – meminjam istilah Kuntowijoyo, Budayawan dan intelektual Yogya. Humanisasi yang dimaksudkan disni adalah humanisasi dalam pengertian positif yang berbeda dengan humanisasi barat. Jika humanisasi Barat terorientasikap pada antroposentrisme yang dengan kata lain bahwa peradaban manusia berpusat pada manusia itu sendiri. Namun, dalam kasus ini humanisasi yang dimaksudkan adalah humanisasi teosentrisme, artinya sebuah perbaikan dan peradaban itu berpusat dari Tuhan.
Humanisasi merupakan ajang memanusiakan manusia, atau menempatkan manusia pada tempat yang seharusnya ditempatkan oleh manusia, atau “manusia yang terbaik”. Dalam surah al-Imran ayat 110, dinyatakan bahwa “umat yang terbaik adalah mereka yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah.” Sikap seperti ini tidak ada sama sekali pada kaum Arab, yang mereka kenal, hanya menyebarkan perasaan takut antar-kaum. Potret orang-orang arab pra-Islam bisa dilihat dari sikap mereka terhadap wanita, yang bisa dipakai begitu saja (baca: hubungan seksual)dan pembunuhan atas bayi perempuan. Akan tetapi, dalam al-Qur’an Allah merubah paradigma itu dengan menyatakan bahwa hukm atau adat mereka adalah adat yang paling buruk dan bahwa manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan diciptakan dari unsur yang sama (lihat al-Nisa ayat 1) , lalu adakah sikap yang harus menyudutkan seorang wanita?

Lalu kata, yang disinggung adalah teosentrisme, berpusat pada Tuhan. Bahwa memang perbaikan manusia itu haruslah berpusat pada Tuhan sendiri. Arti berpusat kepada Tuhan tiada lain merujuk kepada-Nya dalam segala aspek, baik itu untuk kebaikan al-Dunyawiyyah dan al-Ukhrawiyyah. Lalu, bagaimakah kita bisa merujuk pada-Nya? Disinilah posisi penting al-Qur’an sebagai kalam-Nya yang memiliki nilai universal bagi semua umat manusia. al-Qur’an yang memiliki nilai illahiyyah dan insaniyyah telah memanusiakan arab sehingga arab mencapai peradaban paling tinggi dan mulia yang belum pernah dicapai oleh bangsa apa pun, sebelum runtuhnya oleh Bangsa Tartar.
Namun, ternyata peran yang paling penting adalah Rasulullah sebagai ‘penafsir pertama al-Qur’an’. Dengannya bimbingan Allah, kalam-Nya, Rasulullah mengajak manusia kembali kepada al-Islam, ketaatan yang menyeluruh. Baik itu dalam aspek duniawi dan ukhrawi. Sehingga Allah menyatakan sendiri bahwa Rasulullah adalah rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Rahmat ini dalam manifestasinya berbentuk akhlaknya, baik itu dalam aspek individu dan sosialnya. sesuatu yang menarik disini adalah bahwa kata Islam rahmatan lil ‘alamin, ternyata tidak ada sama sekali dalam al-Qur’an. Yang ada hanyalah rasul lil ‘alamin (al-Anbiya [21]: 107). Istilah ini – kemungkinan besar muncul dari para ulama – namun, jika ingin dirasionalisasikan bahwa dalam Islam ada hal yang penting, yaitu arti risalah kenabian itu sendiri setelah nilai uluhiyyah-Nya.

Akan tetapi, sikap Rasulullah – yang menjelma – menjadi hadis, seharusnya tidak disalahpahami. Karena dalam dirinya, Rasulullah mempunyai beberapa fusngi, sebagai nabi, sebagai manusia biasa, sebagai pemberi fatwa, sebagai ayah, sebagai suami. Namun, yang tak kalah penting adalah Rasulullah tinggal di Arab, artinya ia tidak bisa lepas dari lokalistik kaum Arab sendiri. Dengan kata lain yang tercermin dalam dirinya – hadis – ada yang bersifat temporal – khusus – wilayah arab sendiri ada yang bersifat universal. Dan sesuatu yang bersifat universallah yang wajib diikuti.
Maka dalam ajang humanisasi ini, ternyata ada hubungan yang erat antara al-Qur’an sebagai – inti ajaran Islam – dan Rasulullah sendiri sebagai penerima wahyu. Entitas keduanya tidak mungkin bisa dilepaskan. Jika memang al-Qur’an saja yang ada, siapa yang akan menyampaikannya. Namun, jika hanya Rasulullah yang ada tanpa wahyu-Nya, apa yang akan disampaikan. Sehingga, semangat untuk mempelajari al-Qur’an dan Hadis haruslah ditingkatkan dalam kehidupan manusia secara keseluruhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar